Tonggak Bersejarah Ekonomi Digital

Merger Gojek dan Tokopedia
GoTo (Ilustrasi: Denny Pratama/detikcom)

Merger Gojek dan Tokopedia merupakan tonggak bersejarah yang mengiringi ledakan ekonomi digital di Indonesia. Aksi korporasi dua perusahaan teknologi yang menggarap segmen berbeda tersebut diharapkan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi digital. GoTo Group menggabungkan bisnis layanan transportasi, logistik, pengiriman makanan, jasa keuangan, dan loka pasar (ecommerce).

Seperti diungkap dalam keterangan resminya, ekosistem bisnis GoTo setara 2 persen PDB Indonesia. Pada tahun 2020, total nilai transaksi bruto Grup (GTV) lebih dari 22 miliar dolar, dan volume transaksi mencapai 1,8 miliar kali.

Saat ini, valuasi GoTo ditaksir mencapai 18 miliar dolar AS atau ekuivalen Rp 254,8 triliun. Private tech company terbesar ke-12 di dunia. Nilai dan predikat fantastis untuk perusahaan yang masing-masing baru berusia satu dekade.

Menariknya, perkawinan Gojek dan Tokopedia terjadi saat persaingan titan teknologi di Asia Tenggara kian memanas. Berbagai perusahaan teknologi bersaing untuk memperebutkan isi dompet lebih dari 650 juta penduduk di kawasan ini. Indonesia, dengan basis populasi terbesar tentu saja jadi destinasi pasar utama.

Dari aspek peta persaingan bisnis, GoTo tidak bisa dilepaskan dari Grab. Start-up yang berbasis di Singapura itu merupakan kompetitor terdekat GoTo. Juga paling agresif. Meski dalam hal segmen pasar, GoTo menguasai skala yang lebih luas berdasarkan layanan bisnis yang dinaungi.

Saat ini, Grab tengah mempersiapkan rencana go public. Strategi bisnis ini bahkan dikait-kaitkan dengan merger Gojek-Tokopedia. Tak tanggung-tanggung, Grab akan menawarkan saham perdana (IPO) di bursa Wall Street, Amerika Serikat. Go public itu bakal melambungkan nilai pasar Grab menjadi US$ 40 miliar, atau sekitar Rp 572 triliun. Nilai itu jauh lebih tinggi dari valuasi GoTo.

Menjual saham ke publik, merupakan strategi perusahaan dalam menggalang dana. Selain itu, IPO juga jadi profitable exit strategy para investor. Setelah sukses IPO, Grab tentu saja akan semakin agresif dan ekspansif.

Senada, pascamerger, para analis memperkirakan GoTo juga bakal melantai di bursa. Apalagi wacana IPO startup unicorn dalam negeri sudah santer terdengar. Selain Gojek dan Tokopedia, Bukalapak dan Traveloka adalah dua unicorn lain yang diisukan bakal menghimpun dana publik di bursa saham.

Demokratisasi Ekonomi

Berbagai strategi pengembangan bisnis yang ditempuh oleh perusahaan teknologi tentu saja diharapkan tidak sekadar jadi pesta para investor. Eksistensi tech company dituntut membawa makna dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Ekonomi digital diharapkan menjembatani demokratisasi ekonomi.

Ketimpangan peluang dan disparitas sumber daya selama ini jadi isu utama dalam upaya memecah problem ekonomi. Ada indikasi, situasi serupa terulang apabila pertumbuhan ekonomi digital dibiarkan terpusat di kota-kota besar. Kecenderungan mencemaskan itu sebetulnya mulai terlihat.

Bagaimana misalnya, konsumen di Jabodetabek dapat menerima barang yang dipesan secara online dalam hitungan paling lama enam jam. Sementara konsumen di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera harus bersabar bebrapa hari menanti barang yang mereka beli secara daring. Gejala ketimpangan tersebut tentu saja harus dicegah agar tidak makin menajam.

Kita percaya pada pendekatan teknologi yang mampu meretas berbagai problematika ekonomi. Melalui ecommerce, para pengrajin tembikar di Plered, Purwakarta dapat menjangkau pasar di Jakarta dengan harga kompetitif. Berkat dagang daring, produsen di sentra batik Lawean, Solo bisa melayani pembeli dari Samarinda.

Infrastruktur logistik ekosistem ekonomi digital yang andal bahkan dapat didaulat untuk menahan laju produk impor yang membanjiri pasar dalam negeri. Baik pasar online maupun pasar-pasar konvensional.

Sebaran wilayah, konektivitas, dan infrastruktur transportasi merupakan tiga tantangan akselerasi ekonomi digital di Indonesia. Khususnya di sektor dagang daring. Dibutuhkan sokongan logistik yang terintegrasi untuk memangkas biaya kirim yang berimplikasi pada nilai kompetitif suatu produk. Munculnya inovasi in house logistic yang kini jadi tren di kalangan ecommerce diharapkan jadi terobosan efisien.

Inklusi

Yang menarik dari merger Gojek-Tokopedia ini adalah lahirnya satu entitas bisnis anyar. Yaitu GoTo Financial. Bisa ditebak, perusahaan ini bakal memperkuat layanan keuangan di Gojek maupun Tokopedia. Seperti diketahui, sebelumnya kedua platform telah memiliki layanan keuangan. Tepatnya untuk fungsi pembayaran. Pascamerger, layanan keuangan itu tentu saja akan terintegrasi dengan semua produk GoTo.

Belakangan ini industri keuangan dalam negeri berubah besar-besaran. Bank-bank meluncurkan digital banking. Bukan lagi sekadar mobile banking seperti adopsi teknologi keuangan pada periodesasi sebelumnya. Kini, layanan digital banking bahkan sudah merambah ke pembayaran, investasi, dan periodical spending.

Bila kita cermati, ledakan teknologi keuangan di Indonesia telah terjadi dalam tiga babak. Babak pertama ditandai dengan booming peer to peer lending (P2P). Lalu diikuti oleh e-wallet, dan kini disambut oleh digital banking yang masif.

Primadona industri teknologi keuangan bahkan berhasil melahirkan fintech start-up berstatus unicorn. Yakni, start-up bervaluasi di atas 1 miliar dolar AS atau setara kurang lebih Rp 14,5 triliun rupiah. Mahkota unicorn itu disandang oleh OVO.

Start-up unicorn tersebut lahir organik sebagai e-wallet. Bukan pengembangan dari bisnis induknya seperti beberapa e-wallet lain yang dilahirkan dari rahim start-up layanan transportasi daring dan ecommerce. Dus, eksistensi sang tekfin unicorn menunjukkan bahwa memang potensi di segmen ini amat menjanjikan.

Deru tekfin tentu saja mendorong pertumbuhan industri keuangan semakin inklusif. Digitalisasi dan teknologi membuka akses masyarakat pelaku ekonomi untuk berinteraksi dengan institusi keuangan secara praktis. Bahkan menjadi nasabah aktif.

Upaya memasyarakatkan teknologi keuangan sebetulnya dimulai sejak Bank Indonesia mendeklarasikan gerakan non tunai (cashless) pada tahun 2014. Itu babak pertama. Diimplementasikan dengan program pembayaran tol menggunakan uang elektronik berbasis kartu pada tahun 2017. Diikuti pembayaran KRL, TransJakarta, hingga MRT, secara non tunai.

Introduksi transaksi berbasis tekfin di babak pertama memang berbasis kertas. Masih menggunakan kartu sebagai media transaksi. Di babak ekonomi digital, penggunaan kartu-kartuan perlahan ditinggalkan. Telah menjelma menjadi berbasis aplikasi di gawai. Paperless. Sangat praktis.

Bila dicermati, deru tekfin dan eksistensinya di tengah pandemi tak lepas dari sokongan ekosistem digital yang sudah cukup kuat. Preferensi belanja masyarakat di kawasan perkotaan dan suburban, sarat dengan layanan digital. Belanja kebutuhan pangan hingga fashion dilakukan melalui ecommerce yang terintegrasi dengan pembayaran digital sebagai opsi utama.

Pusat-pusat perbelanjaan yang tutup karena kebijakan social distancing tidak meredam minat masyarakat belanja di mal virtual yang ada di genggaman. Dalam tiga jentikan jemari, proses transaksi selesai. Berbagai platform ecommerce di Tanah Air bahkan mengakui, selama pandemi berlangsung, transaksi mereka mengalami lonjakan signifikan. Itulah berkah penetrasi layanan keuangan digital yang disokong oleh ekosistem.

Jusman Dalle Direktur Eksekutif Tali Foundation dan Praktisi Ekonomi Digital

Sumber: https://news.detik.com/kolom/d-5581342/tonggak-bersejarah-ekonomi-digital

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − 5 =